Man Jadda Wajada

barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia

Kamis, 17 Maret 2016

AKU DAN KEHIDUPANKU





 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim…

Hari Rabu, 4 Januari 27 tahun silam, aku terlahir ke dunia dari pasangan suami istri, Ali Sobron dan Zahrotus Sholikhah. Bapak memberiku nama Fatkhurohmah yang berarti pembuka rahmat / kasih sayang. Dulu, aku sempat protes kepada Bapak kenapa memberiku nama Fatkhurohmah. Susah, Pak! Guru saya salah terus membaca nama saya, Pak! Namanya terlalu pendek, Pak! Bapak hanya tersenyum dan selalu menjawab kalau saya beruntung tidak diberi nama khas orang Jawa jaman dulu yang namanya mempunyai akhiran –em seperti suliyem, painem, paijem. Bukannya apa-apa, tapi jaman kecilku dulu sudah berbeda dengan jaman Bapak. Jaman kecilku kalau namanya masih khas orang Jawa jaman Bapak memang sering diledek teman.


saya waktu kecil, sumber: dokumen pribadi
Aku terlahir sebagai anak kedua dari lima bersaudara. Kakakku laki-laki, bernama Muhammad Furqon Aliza, selisih 2 tahun denganku. Adikku laki-laki, bernama Sholikhin Fahmi, selisih 6 tahun denganku. Adikku yang kedua juga laki-laki, bernama Khoirul Fahmi Islakhudin, selisih 10 tahun denganku. Adikku yang terakhir perempuan, bernama Nikmatus Sholikhah, selisih 12 tahun denganku. Melihat nama-nama saudara kandungku, terlihat kan kalau nama saya paling pendek? Dulu waktu masih suka protes, kalau mengisi biodata, nama depan kuisi Fatkhurohmah, nama belakang juga kuisi Fatkhurohmah, kalau ada nama tengah, kuisi juga dengan Fatkhurohmah. Biar terlihat panjang saja, walau sebenarnya tidak. Hehehe.

Bapak baru saja pensiun tahun lalu. Beliau adalah guru SLB-A di Kota Surakarta (Solo). Beliau sangat gigih berjuang membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya. Beliau adalah sosok yang sabar dan penyayang. Ibu tak kalah hebatnya, tanpa pengorbanan beliau mungkin aku bukanlah siapa-siapa. Aku sangat menyayangi Bapak dan Ibu, walau mungkin hingga sekarang aku belum bisa membahagiakan mereka.

Sejak lahir hingga sebelum menikah, aku tinggal di desa Wonorejo yang terletak di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo. Sebuah desa yang berarti dalam bagiku. Tinggal di sana membuatku memiliki dasar pengetahuan agama. Desaku memang terkenal tempat tinggalnya orang-orang beragama. Merupakan basis Muhammadiyah. Sehingga beruntung sekali bisa tinggal di sana. Aku sendiri sebelum menikah ikut aktif di organisasi binaan Muhammadiyah. Setelah menikah, saya pindah rumah di Grogol, Sukoharjo, sehingga tidak bisa ikut lagi.

Saat SD aku bersekolah di SD Muhammadiyah Wonorejo. Beragam rasa kehidupan paling banyak kulalui saat duduk di bangku SD. Banyak cacian hingga pujian yang kurasakan. Dulu ada temanku yang sukanya jadi sok ratu di kelas, aku disuruh-suruh, kalau tidak nurut dia bakal mengajak teman-teman menjauhiku. Bukan kepada saya saja dia seperti itu, tapi juga pada teman yang lain. Hingga suatu ketika entah bagaimana ceritanya saat kelas 2 SD anak-anak perempuan bertengkar hebat. Ada tiga anak perempuan yang memang sok jadi ratu di kelas. Mereka sok punya pengikut dan menyuruh teman yang mengikutinya nurut sama mereka. Yang dua keponakan guru di SD, satu lagi anak pejabat desa. Mungkin karena latar belakang itu kali ya yang bikin mereka sok. Ketiga ratu-ratuan itu entah bagaimana bisa bertengkar, pengikutnya pada belain. Tetapi entah bagaimana bisa ceritanya salah satu dari ratu jadi-jadian itu menyebut namaku ke guru yang kebetulan memang saudaranya. Aku jadi dimarahin, dibilangin jangan nakal. Aku merasa sangat sakit hati waktu itu. Yang lebih membuatku sakit hati, guru itu malah menyuruh teman-temanku menjauhiku. Aku merasa sangat tertekan, dan aku hanya bisa diam saat itu. Tetapi teman-temanku yang lain juga tahu, siapa yang sebenarnya suka jadi ratu jadi-jadian, aku ini cuma jadi kambing hitam. Parahnya lagi, saat di depan sekolah, salah satu ibu temanku ada yang terang-terangan di depanku menyuruh anaknya menjauhiku karena termakan omongan anaknya yang pengikut ratu jadi-jadian. Aku merasa semakin tertekan dan takut. Mungkin peristiwa itu menjadi salah satu pemicu yang membuatku dulu menjadi seorang yang minder karena takut dicela orang, takut salah lalu dipermalukan.

Drama ratu jadi-jadian sudah selesai saat aku dan temanku-temanku naik kelas 3 SD. Semua berteman. Walau pahitnya masih terasa, namun yang kuingat dari kelas 3 SD hingga kelas 6 SD guru-guruku banyak yang memujiku karena prestasiku bisa sering juara 1. Bahkan guru yang dulu mengolokku berubah jadi memujiku dan menyuruh ponakannya (yang dulu sok ratu) buat rajin belajar agar juara seperti aku. Walau penyakit sok ratu temenku itu sudah sembuh, aku sering menerima kekesalannya karena dibanding-bandingkan sama aku. Ya aku senyum saja to.

Enam tahun di sekolah dasar, yang merupakan saat terindah adalah saat kelas 6 SD. Saat kelas 6 SD itulah aku mulai mengenal arti pengorbanan, persahabatan dan rasa suka (cieee) yang pada akhirnya kenangan persahabatan kelas 6 SD itu benar-benar berakhir saat aku duduk di bangku kuliah. Sebuah cinta yang tersimpan dalam diam hahaha :D Asyiknya menjalani kehidupan saat kelas 6 SD dihiasi dengan menjadi pemain angklung saat perpisahan dan ditutup dengan kalung lulusan bertuliskan lulusan terbaik 1.


perpisahan SD, 28 Juni 2001, sumber: dokumen pribadi
Lulus dari SD, dan gagal move on karena tak rela berpisah dengan teman-teman SD (bahkan seringkali aku membanggakan SD-ku), aku melanjutkan sekolah ke SMP N I Mojolaban (SMP Bekonang). Sekolah negeri yang katanya dulu favorit dan merupakan afiliasi SMP N 4 Surakarta (Solo). Banyak kenangan yang kudapatkan saat duduk di bangku SMP. Saat SMP inilah kepercayaan diriku yang paling tinggi kurasakan. Banyak sekali teman yang kukenal satu angkatan, dari kelas A hingga E, yang perempuan 99% kukenali. Dulu aku sering main dari satu kelas ke kelas lain biar banyak teman. PD sekali saat itu. Bahkan kakak kelas perempuan pun banyak yang kukenal. Saat di SMP, aku mengikuti semua ekstrakurikuler di sekolah yang hanya berjumlah tiga, yaitu pramuka, PMR, dan kulintang. Mengikuti kulintang membuatku merasa sangat senang karena menyalurkan hobi musikku. Setiap berapa bulan, aku dan teman-temanku yang ikut kulintang akan siaran di RRI Solo. Aku memegang melodi dan juga menyanyi 1 atau 2 lagu. Pengalaman ekstra kurikulerku berubah lucu saat pemilihan pengurus PMR. Entah bagaimana, pemilihan secara voting yang sangat diharapkan oleh seseorang untuk diraihnya justru jatuh ditanganku yang sama sekali tak mengharapkan sebuah posisi sebagai wakil ketua. Lucunya lagi saya jadi wakil ketua tapi tidak pernah diajak untuk rapat. Yang rapat-rapat malah yang ikut OSIS hahahaha. Ketahuan kalau saya tidak dianggap. Hihihi. Jamanku dulu pengurus OSIS dipilih dari pengurus kelas, yang bukan pengurus kelas tidak akan jadi pengurus OSIS. Sebagian besar yang bukan pengurus OSIS tentunya memandang anak-anak OSIS itu kebanyakan merasa eksklusif (bahasa kasarnya sok eksklusif) walau sebenarnya memang itu beberapa oknum. Namun, pengurus OSIS periode adik kelasku mulai berubah, pengurus OSIS tidak diambil dari pengurus kelas, melainkan tes akademik dan beberapa tes lainnya.

Pengalamanku di SMP juga diisi dengan beberapa kali mendapat tugas menjadi pembaca Al-qur’an di awal acara perpisahan dan pengajian di sekolah. Sungguh aku sendiri tidak mengerti sampai sekarang mengapa saat itu mau-mau saja, padahal tentunya aku berdiri di hadapan banyak orang. Pengalaman yang tak kalah seru adalah saat aku ikut lomba Bahasa di tingkat Kabupaten dan lomba pidato Bahasa Inggris di acara jeda semester di sekolah. Secara teks, saat pidato Bahasa Inggris hafal sekali, tapi saat maju tidak bisa menyembunyikan nervous. Selesai pidato saya malah nangis di kelas dan minta maaf karena tidak tampil dengan PD pada teman-teman. Teman-teman menghibur bahwa sudah sangat baik saya mau mewakili kelas walau tidak menang.

Saat kelas 3 SMP, aku dan beberapa temanku secara tak langsung membuat kelompok belajar yang akhirnya menamai diri kami menjadi M3ARPA. M3ARPA adalah gabungan dari nama depan kami; Mifta, Muslimah, Modin, Ammah (saya), Rini, Puji, Ahmad. Kelompok M3ARPA ini dulu sering belajar bareng bergiliran dari satu rumah ke rumah yang lainnya menjelang ujian sambil main tentunya. Eh tapi kami tidak mengenal pacaran loh. Kelompok ini sedikit sok eksklusif hihihi karena isinya pemegang rangking semua. Dan aku tidak tahu apa pendapat teman-teman sekelas waktu itu, apa kelompok kami agak sok atau apa, aku tak mau tahu hehehehe.

Setelah ujian SMP berakhir, di acara perpisahan, aku dan teman-temanku yang ikut kulintang kembali beraksi. Perpisahan itu kututup dengan bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena berhasil mendapat peringkat 5 paralel dan sedih karena berpisah dengan teman-teman. Sedih dan bahagia yang seimbang.

Memasuki bangku SMA, aku terdampar di SMA N I Sukoharjo. Terdampar karena awalnya ingin sekolah di SMA N I Surakarta (SMA N I Solo), namun karena dari luar daerah kuota yang diambil sedikit dengan pesaing banyak, aku harus rela melepas mimpi. Dari 60 siswa luar daerah yang akan diterima, aku menduduki peringkat 72 dan otomatis harus mencabut pendaftaranku. Di hari-hari pendaftaran yang hampir berakhir, Bapak menyuruhku mendaftar di SMA N 3 Surakarta karena nilaiku jelas diterima di sana, tetapi aku takut, di sana katanya siswanya kebanyakan orang-orang cina yang cerdas dan kaya raya, aku minder. Bapak meyakinkanku bahwa banyak juga orang jawa, tetapi aku tetap tidak mau. Aku pun akhirnya didaftarkan Bapak ke SMAN I Sukoharjo dan diterima.

Beberapa hari belajar di kelas, tiba-tiba aku menjadi salah satu siswa yang diikutkan tes untuk masuk kelas akselerasi. Akhirnya saat diumumkan, dari 39 siswa, aku berada diurutan 23. Setelah proses wawancara siswa dan orang tua, aku resmi menjadi salah satu siswa akselerasi SMAN I Sukoharjo angkatan pertama. Menjadi siswa akselerasi membuat hidupku berubah. Dulu di SMP, aku sangat mudah bergaul. Namun, di SMA secara tidak langsung pergaulanku berubah 180 derajat. Kami siswa aksel menjadi sorotan siswa regular. Entah apa yang ada di pikiran mereka, ada yang iri karena kelas kami paling mewah saat itu (bayarnya juga mahal lho), ada yang nunjuk-nunjuk kami kalau lewat, cah aksel lewat-cah aksel lewat, bahkan ada yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan. Aku dan teman-temanku juga tidak tahu apa salah kami, sampai ada yang begitu. Kami pun akhirnya hanya berkutat di kelas dan ke luar jika ada perlu. Selain karena pelajaran kami yang padat, jadwal masuk dan libur kami juga berbeda dengan kelas regular. Apalagi kelas kami di pojok, jarang terjamah hehehe.

Padatnya belajar di awal kelas akselerasi juga prestasiku yang menurun, sempat membuatku stress. Dari yang sejak SD hingga SMP belum pernah mendapat nilai di bawah 6, di awal SMA mendapat nilai ulangan do re mi fa sol. Namun, akhirnya aku memilih semangat berjuang karena merasa baru berada di masa penyesuaian. Waktu semakin berlalu, aku merasa baik dan terbiasa di kelas akselerasi. Walaupun hanya dua kali mendapat peringkat sepuluh besar, tapi Alhamdulillah bisa lulus dengan nilai yang bagiku memuaskan dan yang terpenting adalah hasil sendiri karena mengerjakan ujian tanpa kerja sama dengan teman.

Lulus SMA, aku mendaftar SPMB dan memilih jurusan kedokteran UNS (Universitas Sebelas Maret) dan aku gagal. Aku pun akhirnya tetap masuk di UNS tetapi di program studi S1 PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) dengan sedikit terpaksa dan berharap mengisi waktu agar tahun depannya bisa mendaftar kedokteran lagi. Aku kuliah seadanya, berharap itu sementara. Namun ternyata tahun depannya tidak diijinkan Ibu untuk pindah kuliah. Walau sedikit kecewa, akhirnya aku bisa semangat kuliah di PGSD. Aku mulai mencintai dunia anak-anak. Aku pun merasa sangat beruntung bisa kuliah di PGSD. Banyak hikmah yang bisa diambil.

Mata kuliah yang paling berkesan adalah mata kuliah yang diajarkan Bapak Gunarhadi (aku lupa mata kuliah apa). Bapak Gunarhadi mengajak mahasiswa berkeliling SLB di Solo. Hal itu membuat kami yang lahir normal tanpa kurang suatu apapun menjadi sangat bersyukur. Selain itu di semester terakhir, ada mata kuliah pilihan yang wajib diikuti. Mata kuliah itu antara Seni Musik atau Seni Tari. Aku yang memang dulu pernah suka musik dan memutuskan berhenti menyukai, akhirnya memilih seni music. Seni musik yang dipelajari saat kuliah adalah Kulintang dan Gitar. Aku yang pernah lama bermain kulintang, tentu tidak merasa kesulitan sama sekali, justru merasa bernostalgia. Sedangkan gitar, aku sama sekali belum pernah belajar. Namun mungkin, memang bakat musik itu ada (kakakku dulu juga jago marching band). Dosen musikku, Bapak Karsono sempat berkata bahwa untuk pemula, permainan gitarku jempol. Bahkan aku sempat membuat satu lagu ciptaanku yang kuperdengarkan kepada teman-teman dekatku. Namun, lagi-lagi, bagiku kuliah seni musik adalah kesempatan bernostalgia dengan hobi saat SMP. Bagiku, musik dan murotal tidak akan pernah sejalan, justru berlawanan. Aku memutuskan mencintai musik dalam kenangan (bukan berarti terus nggak mau menyanyi sama sekali, di sekolah masih ngajar seni musik walau terbatas) serta mencintai Al-Qur’an dalam kenyataan kehidupan.

Sehari setelah hari lahir Ibuku yang ke 51 tahun, yaitu 27 Juli 2010, aku dinyatakan lulus. Tanggal 2 September 2010 aku dan teman-temanku mendapat gelar S.Pd. Aku lulus kuliah dengan IPK 3,41. Sempat menyesal mengapa dulu di awal kuliah tidak sungguh-sungguh sampai tidak bisa cumlaude. Namun, yang paling kupahami adalah restu seorang Ibu menentukan nasib anaknya. Lulus dari kuliah Bapak Ibu menganjurkanku ikut tes CPNS, aku menurut saja walau saat itu aku sudah sangat merasa nyaman menjadi guru di SD AL-Irsyad Surakarta. Tes CPNS terlaksana dengan lancar, tanpa kerja sama tanpa kecurangan. Saat pengumuman aku termasuk yang lolos. Mungkin, jika dulu aku jadi pindah kuliah, mungkin saat itu aku belum lulus dan tidak akan lolos cpns, karena tahun berikutnya, qadarullah, moratorium cpns diberlakukan.

Setelah lolos cpns, tahun 2011 aku ditempatkan di SD Negeri Krajan. Sebuah SD di Kecamatan Jebres Kota Surakarta (Solo). Perpisahan dengan SD Al-irsyad pun tak terhindarkan. Perpisahan yang sama sedihnya dengan perpisahan jaman SD dulu. Perpisahan yang menguras air mata. Lebay!!! Hahaha.

Awal tahun baru 2012, saat usiaku 23 tahun, seorang teman memberitahuku bahwa ada seorang laki-laki yang menginginkanku menjadi istrinya. Aku jawab saja aku belum siap menikah. Aku suruh temanku bilang pada laki-laki itu untuk mencari wanita lain. Namun, ternyata, setelah beberapa bulan. Laki-laki itu pun menanyakan lagi. Hingga akhirnya pada tanggal 8 Juli 2012, laki-laki itu datang ke rumahku bersama sepasang suami istri yang tak lain adalah sahabat saat kuliahku, Mas Moko dan Mbak Eva. Laki-laki itu mengajakku ta’aruf dan menyampaikan maksudnya pada orang tuaku melalui Mas Moko. Ta’aruf pun dilaksanakan. Setelah melalui istikharah yang panjang, dengan mengucap Bismillah, aku pun memutuskan menerimanya.

Tanggal 7 bulan Oktober tahun 2012 menjadi hari bahagia kami. Pernikahanku dengan seorang laki-laki bernama Ardi Rahman Fuady. Sikapnya yang tulus menyayangiku dan mencintaiku membuatku yang awalnya belum cinta menjadi cinta. Benarlah jika cinta itu ditumbuhkan. Itulah mengapa tidak ada kata pacaran dalam islam.

Setahun setelah pernikahan, tepatnya tanggal 26 Oktober 2013, aku didampingi oleh suamiku yang sangat setia, melahirkan seorang bayi perempuan jam 9 malam, teriring hujan yang berharap menjadi keberkahan. Bayi itu kami beri nama Athifa Auliyaur Rahman yang kami harapkan menjadi wanita lemah lembut yang menjadi kekasih Sang Maha Rahman. Yaitu menjadi wanita sholihah dan bertaqwa kepada-Nya.

Tentunya dalam perjalanan rumah tangga kami, ada suka duka silih berganti. Ujian dan kebahagiaan kami rasakan bersama dan kami berharap bisa menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah. Aamiin.
saya, suami dan anak, sumber: dokumen pribadi
adik, Bapak, adik, bungsu, saya dan anak,, Ibu, kakak

Tentang nama. Nama Fafa Fathurrohma adalah nama yang kugunakan sebagai nama pena. Tahun 2011 adalah tahun-tahun saat aktif menulis. Aku aktif mengikuti kegiatan organisasi kepenulisan Forul Lingkar Pena (FLP) Solo. Fafa, berasal dari kecintaanku terhadap angka 4 dan dihubungkan dengan musik jaman dulu, (walaupun suka musik, aku belum pernah nonton konser, dan itu Alhamdulillah). Aku suka angka 4 karena aku lahir tanggal 4, saudaraku 4, dan nada 4 itu adalah fa. Aku sendiri suka huruf F dan A. Nama itu sudah lama kubuat inisial dan nama email. Eh, Qadarullah ternyata F nya Fafa, sedangkan A nya adalah Ardi. Fafa dan Ardi. (emot senyummmmm dan cinta) :D

Nama Fathurrohma berasal dari nama asli saya Fatkhurohmah. Sengaja saya ikutkan karena itu nama pemberian Bapak yang artinya sangat bagus. Hanya saya ubah sesuai huruf arabnya. Jadi jangan heran jika di fb ada yang memanggil amah, itu nama panggilan saya dari kecil sampai kuliah. Di Al-Irsyad saya memperkenalkan diri sebagai Fathur. Setelah itu saya memperkenalkan diri sebagai Fafa. Orang yang memanggil saya dengan Fafa berarti orang kekinian. Termasuk suami saya. ^_^

Satu lagi nama panggilan saya yaitu Rohmah. Itu adaah panggilan keluarga saya. Yang setelah menikah, saya akhirnya memperkenalkan diri di keluarga suami dengan nama Rohmah. Suami jika di tempat kerja dipanggil Rahman. Rohmah dan Rahman. Cocok sekali kan? (senyum lagiii)

Selebihnya, saya berharap bahwa hidup saya diridhoi Alloh Subhanahu Wata’ala. Semoga Alloh mengampuni dosa saya dan merahmati saya dan keluarga.

Alhamdulillahirabbil’alamiin.
____________________________________________________________________________
Saya pertama kali kenal dengan Mbak Ika saat ada acara kopdar IIDN Solo di rumah Mbak Arinta Adiningtyas. Hari Ahad, tanggal 15 Februari 2015. Mbak Ika memperkenalkan diri, bahwa beliau adalah kakak dari Mbak Arinta. Ceritanya Mbak Ika diminta bantuin masak, begitu kata Mbak Arinta. Menurut saya masakannya saat itu, lontong opor, enak banget. Mak nyuusss. Tidak kalah dengan masakan rumah makan.
Setelah kenal di dunia nyata, saya berteman dengan Mbak Ika di dunia maya melalui media social. Mbak Ika seorang yang ramah, baik dan rukun dengan adik-adiknya, mbak Arinta dan dik Opik. Kerukunan mereka mengingatkanku bahwa dulu saat kecil saya ingin sekali mempunyai kakak perempuan yang bias mengajakku bermain dan curhat bareng. ^_^
Mbak Ika sering posting di blog, juga posting masakan, bikin ngiler deh.
Terima kasih sudah mengadakan Giveaway tentang sejarah hidup Mbak Ika, membuatku merasa bersyukur telah melewati kehidupan yang cukup penuh rasa suka dan duka. Semoga Alloh berikan kita keridhoan dan keberkahan. aamiin.
Tulisan saya ini, walau telat posting karena terkendala jaringan, tetap saya posting. Sayang, nulis panjang-panjang nggak jadi disetorin hehehe (tadi ngajar dulu).
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
 
 

1 komentar:

  1. Hehe...masyaAllah..mb Fafa pinter merangkai cerita. Aku juga jadi tersanjung nih...
    senang bisa kenal dan berteman dengan mb Fafa, semoga bisa ketemu lagi ya ;)

    BalasHapus