Man Jadda Wajada

barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia

Selasa, 02 Agustus 2011

Dear my beloved mother

puisi ini kubuat 3 tahun yang lalu saat hari lahirnya ibuku dan kuberikan pada beliau.
"barakallahu fiy umrik ibu, semoga Alloh selalu memberikan kesehatan dan kebahagiaan untukmu" aminnn
(26 Juli 2011)


Dear my beloved mother

Ibu….
Embun pagi menyambut kelembutanmu yang tak pernah pupus
Mentari melambaikan sinar cerahnya atas kasih sayangmu yang tak pernah pudar….
Meski badai buruk dan desiran ombak yang begitu dahsyat selalu menghampirimu…..

Ibu….
Jika aku mampu
Ku ingin membawamu terbang dengan sayap yang kupunya melewati segala penjuru surga dunia yang ada
Tapi…
Aku tak mampu…..

Ibu….
Jika aku mampu
Kuingin membawamu menjelajahi samudra dunia dengan nafasku…
Hingga kau mampu melihat bermilyar bahkan bertrilyun keindahan yang tak pernah kau lihat
Tapi…
Lagi-lagi aku tak mampu

Ibu….
Maafkan putrimu yang tak pernah menyajikan kebahagiaan padamu
Maafkan putrimu yang tak pernah bisa memberikan sesuatu yang berharga di hidupmu

Ibu…
Tiada kata yang mampu kuucapkan selain terima kasih…….
Atas cinta yang tak pernah hilang untukku…
Juga
Atas segala maaf yang selalu kau berikan…
Akan dosa yang selalu kubuat
Dan luka yang selalu kuukir hingga membuatmu menitikkan air mata berhargamu….

Ibu….
Kau orang yang paling berarti di hidupku
Kau orang yang paling kucintai di hidupku
Takkan terganti meski itu diriku sendiri
Dan takkan hilang dariku…..
Meski nyawaku telah berpisah dari tubuhku…..

Terima kasih…… ibu…….
Semoga Alloh selalu membalas kebaikanmu
Dan memberikan tempat yang terbaik kelak untukmu……
Amin………….

I love you…………
Ibu…………………

26 Juli 2008


*puisinya nggak nguati,,, biasa banget ya.. hehehe, maklum puisi jaman dulu, amatiran, yang penting maksud hatinya kan.....

Kamis, 21 Juli 2011

MIMPI

Sudah setengah jam aku mengutak-atik FB seseorang. Bukan mengacaukannya apalagi meng-hack, orang gaptek kayak aku mana bisa berbuat begitu. Aku hanya ingin menyelidiki siapa dia. Dia yang tiba-tiba sering menanyakan banyak hal tentang diriku. Heran aja, aku nggak kenal tapi kenapa dia seolah-olah kenal sama aku. Aku jadi penasaran siapa dia sebenarnya.
“Huft....capek juga!” kututup jejaring sosial dan kucabut modem dari laptop kesayanganku. Ku refresh dan ku klik shutdown. Kurebahkan sebentar tubuhku sambil menunggu laptopku mati. Kupencet HP-ku dan menyeting alarm biar tidurnya nggak keterusan. Maklum jam tidur udah kelewat. Ngantuk berat!!!
“Farah, sini sebentar, bunda dan ayah mau bicara!” Bundaku memanggil. Kulihat bundaku dan ayahku berdiri di jendela kamar tamu.
“Ada apa bund?” Tanyaku setelah menghampiri.
“Sini, coba kamu lihat di luar nanti akan ada laki-laki yang datang mau ijab sama kamu.” Jawab Bunda.
“Apa bund???????” Aku benar-benar terkejut.
“Iya, nanti ada yang mau ijab sama kamu.” Ayah menambahi.
“Loh, kog bisa sih? Siapa?” Aku penasaran, jantungku berdegup kencang, dan merasa sangat takut. Takut yang teramat sangat. Kog bisa? Aku syok.
Tak lama kemudian datang sebuah sepeda motor yang ditumpangi dua orang laki-laki. Satu orang berpenampilan ala ustadz. Berpakaian koko, memakai sarung dan berjenggot serta berjambang lebat sekitar umur 30-an. Yang satu masih muda sekitar 25 tahun. Dia memakai hem lengan panjang warna biru dan celana panjang hitam. Ditangannya nampak sebuah kamera besar dengan lensa bundar.
”Itu orangnya Far!” Kata bunda sambil menunjuk ke arah luar. Aku semakin gugup. Denyut jantungku entah sudah mencapai berapa puluh atau ratus, aku nggak tahu. Ayah dan bunda mengajakku ke teras menghampiri dua laki-laki itu.
“Ini Far, kenalin, dia agamanya bagus.” Kata ayah sambil menunjuk laki-laki berpenampilan ustadz tanpa menyebut siapa nama laki-laki itu. Aku yang merasa ogah-ogahan cuma diam mematung sambil melihat wajah laki-laki itu tanpa kata. Kulihat laki-laki disebelahnya. Apa orang ini fotografer ya kog membawa kamera? Ucapku dalam hati.
“Ini lho yang mau ijab sama kamu, dia agamanya bagus, buktinya mas yang satunya ini bisa berubah jadi alim karna berkat bimbingannya juga.” Kata Bunda sambil melihat laki-laki berpenampilan ustadz. Aku semakin bingung.
“Aku nggak pernah merasa ta’aruf sama dia, nggak pernah merasa janji nikah sama dia, kenapa tiba-tiba aku harus nikah sama dia? Ini hidupku cuma sekali, aku nggak mau menikah sama orang yang nggak aku cintai. Kalau pun aku nikah ma dia, ya harus ta’aruf dulu. Nggak bisa langsung ijab seperti ini!!!!” Akhirnya aku bicara. Air mataku tumpah. Laki-laki berpenampilan ustadz malah menatapku. Aku samakin takut. Nggak! Aku nggak mau nikah sama laki-laki ini, aku nggak kenal, aku nggak cinta, aku mau nikahnya cuma sama dia yang disana. Dia yang slama ini kucintai! Protesku dalam hati. Aku berlari ke lantai atas menuju kamarku meninggalkan ayah, bunda dan dua laki-laki itu. Air mataku bercucuran. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku merasa nggak terima. Ini nggak adil buatku. Akan beda ceritanya kalau aku memang ta’arufan sama laki-laki itu, tahu siapa laki-laki itu dan aku menyetujui proses itu. Lah ini?
“Aku nggak mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!!!!!!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya sambil mengusap air mataku.
Huh hah huh hah.....napasku terengah-engah. Aku terbangun dari tidurku. Ya Alloh.... Aku bermimpi!!! Perasaanku nggak karuan. Kuusap wajahku, Ya Alloh......aku benar-benar menangis. Kuingat aku tertidur dan belum berdoa. Kulangkahkan kakiku mengambil air wudhu dan kembali istirahat. Kutenangkan hatiku dengan melantunkan dzikir dan do’a-do’a sebelum tidur. Nyaman sekali.
“Kenapa Far? Semua udah disiapin lho.” Kata Bunda setelah menyusulku. Aku bingung. Aku melihat nggak ada persiapan apa-apa. Nggak ada dekorasi, nggak ada apa-apa.
“Bund, aku cuma mau nikah ma dia yang aku cintai bund!” Jawabku masih dengan terisak-isak.
“Dia siapa?” Tanya bunda.
“Dia bunda, dia...dia...” Jawabku.
“Dia siapa?” Lagi-lagi bunda bertanya.
“Ya dia bund, dia.” Aku tak mampu menyebut namanya. Di benakku terbayang sosoknya yang amat kucinta dan kuharapkan. Hatiku hancur nggak karuan. Aku benar-benar nggak menyangka kenapa bisa seperti ini. Tiba-tiba disuruh ijab dengan laki-laki yang tiba-tiba datang tak kukenal tanpa proses ta’aruf. Aku bukan Siti Nurbaya. Hatiku tambah hancur saat menyadari aku cuma sanggup memendam perasaanku pada orang yang aku cinta. Remuk redam.
Akhirnya aku turun dan menuju ke teras bermaksud menemui dua laki-laki yang datang ke rumahku. Kulihat mereka duduk menungguku di bawah pohon mangga depan rumah. Kudengar ayahku mengatakan sesuatu pada mereka yang intinya jangan memaksaku tuk menikah. Aku sedikit lega. Kuberanikan diri menghampiri.
“Kamu kenapa? Hatiku sakit banget kamu tolak. Kenapa kamu nggak mau menikah sama aku?” Kata laki-laki berpenampilan ustadz. Laki-laki itu kelihatan sangat marah.
“Loh, kenapa marah-marah sama saya?Apa salah saya? Tunggu dulu, kita tabayunkan dulu. Saya nggak pernah ta’aruf sama jenengan. Nggak pernah bilang mau nikah sama jenengan. Kenapa kejadiannya kayak gini?” Sahutku. Laki-laki itu diam.
Kukeluarkan HP-ku memperlihatkan isinya lalu memutar sebuah lagu. Lagunya Maher Zain.
“Jenengan dengarkan lagu ini, lagu ini sangat mengingatkan saya pada seseorang. Sebenarnya selama ini saya menunggu seseorang yang saya cinta.” Terbayang lagi sosok dia di benakku. Terselip rasa harapan dan sakit yang datang bersamaan. Harapan bahwa dia akan menjadi imamku kelak, dan rasa sakit karna perasaanku ini hanya terpendam tanpa diketahui olehnya. Dan seandainya dia tau pun, aku tak tahu apa ada harapan untukku. Yang aku tahu, aku hanya ingin menunggunya sampai aku tak lagi mampu. Atau sampai menyaksikan dia menikah, entah dengan siapa. Mungkin konyol. Tapi ini mauku.
“Ya sudah, aku mengerti” Kata laki-laki itu kemudian.
Hatiku sangat lega, namun rasa yang menyelinap di hatiku pada sosok dia itu seperti menggedor-gedor hatiku. Sakit.
“Far, udah jam enam!” aku terperanjat mendengar suara ibuku. Kubuka mataku. Sudah pagi.
“Ya Alloh aku mimpi lagi, bukannya tadi malem itu aku bermimpi trus aku bangun dan tidur lagi? Kog mimpinya bersambung?” tanyaku bingung.
“Far, cepetan bangun! Meskipun lagi gak sholat jangan keenakan tidur!” ucap Bunda sambil membuka pintu kamar.
“Iya Bund, tadi malem kemaleman tidurnya, jam 2 baru tidur.” Sahutku.
“Ya udah cepet kerjakan kewajibanmu hari ini apa!”
“Iya Bund!” jawabku sambil beranjak membereskan tempat tidur.
Ya Alloh....aku mimpi apa? Apa yang akan aku lakukan jika itu benar-benar terjadi? Aku masih mau menanti dia meski aku tahu itu sangat tak jelas. Dan meski aku tahu bahwa dia mungkin tak mencintaiku. Tapi aku sudah memutuskan untuk menanti jika mungkin ada keajaiban. Ya Alloh Engkau tempatku berharap.....


Fafa Fathurrohma
Rabu, 22 Juni 2011

Kamis, 30 Juni 2011

MIMPI

Sunyi luluhkan sepiku
Tenggelam nantikan cintaku
Menerawang
Mengharap malam kabulkan mimpi-mimpi
Dan mengharap pagi tak pernah kembali
Hingga senyum kan tumbuh
Dalam tiap hela nafas…
Dan buat dunia tertawa
Hingga gerhana kan berlalu dari tiap denyut nadi
Tapi tetap aku tenggelam bersama mimpi-mimpi..
Mimpi yang tetap menjadi mimpi
Dan kan hilang di setiap datangnya pagi


Fafa Fathurrohma
ditulis ulang 30062011

Aku Terima!


Rasa ini benar-benar mengurungku dalam kebimbangan
Membawaku dalam ketidakpastian
Menggedor-gedor lamunanku yang kian berliku

Aku ingin bertanya
Kenapa aku harus bertanya?
Jawabannya ada
Tapi ingin kuanggap tiada
Inginku buang semua bahan bicara
Inginku hapus semua luka
Bukan aku ingin lari
Kuhanya ingin berdiri
Menapaki jalan yang masih tak pasti

Aku tak lagi punya pilihan
Semuanya tlah mereka sembunyikan
Semuanya tlah mereka rahasiakan
Terbungkus kain hitam yang kelam
Dan aku hanya sendirian

Aku masih bertanya,
Meski tiada lagi jawabnya,
Karna aku tak kuasa meraih semua,
Aku terima!


Fafa Fathurrohma
27062011
13:06

Kamis, 02 Juni 2011

KETERIKATAN ORGAN

Lambung : hey otak, plis..kasihani aku!
Otak : maksudmu apa?
Lambung : aku sakit niy gara2 km kerja terus, berhentilah berpikir sejenak, plis...
Otak : emang aku gunanya buat mikir.
Lambung : tapi kalau kamu berlebihan bakal bikin aku pingsan beneran. asamku bisa naik.
Otak : tapi ni bukan kemauanku, aku aja juga dah mau pingsan gini, mau meledak rasanya. saraf2ku juga dah pada protes ke aku tuh. bahkan mata juga bilang ke aku katanya pusing.
Lambung : wah ini bahaya. kalau kamu sakit semua akan sakit, gak cuma aku, nanti akhirnya usus, dada, mata, tangan, kaki, dan lainnya akan lemah juga.
Otak : aku gak bisa ngendaliin niy, yg bs ngendaliin cuma yg punya kita.
Lambung : kamu teriak dong ma orangnya.
Otak : what?? teriak? orangnya gak bakal denger kali.
Lambung : trus gimana?
Otak : gimana ya?
Lambung : aduh, aku makin sakit niy,,
Otak : aku makin terasa sakitnya, jadi wajar kamu ikutan sakit.
Lambung : trus gimana niy, kalau kita smua sakit, orangny pasti drop juga..
Otak : kita bdoa aja biar orangnya gak make aku berlebihan, kita mau demo percuma, kata2 kita g bisa dia denger.
Lambung : semoga rasa sakit ini bisa dirasakannya, trus dia mengistirahatkan kita.
Otak : dia pasti merasakan kog, bahkan dia yg paling merasakan jk kt smua sakit. smoga dengan ini dia gak mengulang2 data itu ke aku lg dan cepet2 membuang data it. jd aku g overload..
Lambung : data apa?
Otak : ya data yang dipikirin dia, masalah bro, maksud gak? yang muncul di aku datanya masih sama ma yg kmaren2. gak bosen2 ya..
Lambung : seberapa penting sih masalahnya?
Otak : mana kutahu..
Lambung : eh coba hubungi hati aja biar dia ikut membantu mengendalikan orangnya. bilang dia suruh berdzikir yg banyak.
Otak : oke2..
Lambung : smg smua lancar yaa.
Otak : iya, amin..
Lambung : amin..

Selasa, 31 Mei 2011

“RASA ITU” BEGITU SULIT TUK KUMENGERTI



Rasa itu telah tercipta jauh sebelum aku lahir
Bahkan jauh sebelum DIA menciptakan alam semesta
Rasa itu tlah tertulis dalam Lauhul Mahfuzh
Tlah diatur-NYA tuk mengendap dalam setiap jiwa makhluk-NYA

Aku tak mengerti benar kapan kudapat rasa itu
Yang kuyakini, ketika aku dikandung, aku kenal rasa itu
Rasa yang ditumpahkan ayah bundaku
Rasa yang ditumpahkan nenekku
Rasa yang ditumpahkan calon keluarga besarku

Aku lahir..........
Kudapati rasa itu lebih dalam
Aku mulai besar..........
Kurasakan kehadirannya menentramkan
Aku remaja.............
Kurasakan rasa itu beraneka ragam
Aku beranjak dewasa..........
Kudapati rasa itu begitu rumit
Membuatku tertawa, terdiam, menangis, membisu dan pilu
Menawanku dalam bahagia, lara, sakit juga harapan yang teramat dalam
Membawaku pada arus kegilaan, kesakitan juga puncak keimanan
Aku tak mengerti mengapa begini
Aku tak mengerti mengapa rasa itu mengubah-ubah suasana hati
Yang kutahu, DIA-lah pemilik tersempurna rasa itu
Yang kutahu, DIA-lah satu-satunya tempat yang tepat tuk mencurahkan rasa itu
Rasa yang jika benar-benar muncul karna-NYA dan tertinggi untuk-NYA hanya ada satu kata membara, BAHAGIA!!!!
Namun aku manusia
Aku tak kuasa mengatur semua
Aku tak tahu harus berkata apa
Aku tak tahu harus berbuat apa
Yang kutahu dan kuingin.........
“Aku takkan kehilangan-NYA selamanya...”


Fafa Fathurrohma
30 Mei 2011, 21:37 WIB

Jumat, 27 Mei 2011

WELCOME TO AL-IRSYAD (Al-Ir Diaries_Part2)



"Qodarullah wamaa syaa-a fa’ala_takdir Alloh dan segala yang dikehendaki-NYA pasti terjadi." (HR.Bukhari).

Hadist itu membuatku yakin akan apa yang ada dihadapanku,,, bahwa semua yang  telah terjadi itu telah ditentukan oleh-Nya,,, tentunya termasuk keberadaanku sebagai guru di  SD AL-IRSYAD.....dan aku yakin itulah yang terbaik.
Aku sangat senang dengan hadist itu,,, karna mengingatkanku akan campur tangan-Nya dalam setiap sendi-sendi kehidupan makhluk-makhlukNya. Membuatku sadar, tidak semua keinginanku, harapanku dan impianku bisa kugenggam erat dengan jari-jari tanganku. Boleh jadi aku merencanakan sesuatu hal baik untuk mencapai keinginanku, berdoa dan berusaha, namun ternyata  Alloh tak mengabulkannya. Boleh jadi aku sedih, bahkan...mungkin sampai menangis, atau sampai sakit karna memikirkannya (nggak lebay lho... pernah soalnya..hehehehe). Tapi ketika aku ingat hadist itu, aku jadi sadar, Alloh tak kan pernah salah memilihkan sesuatu yang terbaik untukku. Aku percaya, Alloh tak pernah tertidur dan tak pernah lupa. So....harus SEMANGAT!!!!! OK???!!! Sip Dah...

Hmmmmmm............... aku jadi ingat gimana aku bisa jadi anggota Al-Irsyad.........
Mau tau????? Check it out...... simak baik2 ya..! (hahahaha.....narsis.com. gak papalah itung-itung latihan biar tambah PD,,, ya nggak??)

Masih teringat saat itu awal Oktober 2010 (hari pasnya aku lupa, kalau nggak tanggal 4 ya tanggal 5) aku mendapat panggilan wawancara kerja dari yayasan Al-Irsyad. Aku sedikit bimbang antara memenuhinya atau mengabaikannya. Posisiku saat itu aku masih berharap ditrima di sebuah SD yang jadi impianku sejak dulu. SD yang termasuk unggulan di kota Surakarta. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan aku memenuhi panggilan itu. Aku bertemu 2 petinggi yayasan, bu R*** dan pak U*** (taukan?). Aku ditanya sama Bu R*** tentang siapa namaku_kujawab Fatkhurohmah, ditanya lagi, dipanggilnya siapa ni_kujawab Fathur. Ditanya lagi lulusan mana_kujawab PGSD UNS. Ditanya lagi, “temennya Bu Yani ya?”_tentu saja kujawab iya. Ditanya lagi rumahnya_kujawab panjang kali lebar deh (nyebutin rumahku kan pake peta,,.males deh ngomongnya) Hehehehe. Ditanya lagi kenapa mau jadi guru_kujawab aja karna........ hag hag hag hag hag...... muter muter dulu nih jawabnya,,, jawab dari impian jadi dokter, sampai keblasuk ke PGSD, sampai akhirnya merasa bersyukur bahwa aku ditakdirkan jadi seorang guru,,, karena jadi seorang wanita muslimah, yang insyaAlloh nantinya akan jadi seorang istri dan seorang ibu, tentunya mempunyai kewajiban tuk “mengurus keluarganya”,, tugas yang jauh lebih mulia, yang lebih penting dan lebih utama... dan jadi seorang guru tentunya tak akan terlalu banyak menyita waktu, masih banyak kesempatan tuk bersama keluarga. I’m proud to be a teacher. But I’m very proud to be a good wife and a lovely mother. (pandangan masa depan,hehehehe). Ditanya lagi banyak banget,,, lupa lah. Oya, ditanya lagi yang terpenting nih, apa mau daftar PNS?_ kujawab, kehendak orang tua seperti itu (tentunya ada kehendakku juga, setelah melalui pertimbangan yang panjang). Ditanya lagi, mau daftar mana?_kujawab Solo. Beliau pun berkata, jika mau daftar di Solo nanti kalau ditrima akan ditarik di sini. WOOOwwwwww it’s sounds great...!!!! jadi PNS di sekolah islam??? Hemmm.... semoga bisa (pikirku waktu itu).
Akupun ditanya banyak hal tentang hobiku, pembelajaran dan lain-lain. Juga disuruh membaca Al-Qur’an Utsmani.
Wawancara pun selesai, aku harus menuggu jadwal Microteaching. Berhubung anak-anak baru mid semester akhirnya aku menunggu jadwal agak lama. Tanggal 18 Oktober aku mengambil jadwal Microteaching di LPP. Aku dapet materi benda cair, gas dan padat. Aku sempet bingung mau kuapakan tuh materi. Tapi sedikit utak-atik akhirnya ketemu juga deh konsepnya. Bikin RPP, kubuat versi terbaru, telpon adik tingkat PGSD. Kelasku belum dapet soalnnya. Hingga hari H pun tiba (auwwaaahhhh, hari H, kayak apa wae).
Jadwal Micro-ku jam 11.00 s.d. 11.45, hari Selasa, 21 Oktober 2011. Aku bergegas berangkat dengan membawa banyak barang. Sesampainya di depan SD aku sedikit ragu untuk masuk, bingung, takut, gak enak hati,,, deg-degan,,antara yakin nggak yakin, campur2 lah. Kutelpon Yanik, gak diangkat2. Kutelpon Nisa, kagak diangkat juga....! “Haduuuuhhhhhhhhhh..... piye ki?” pikirku saat itu. Kulihat jam semakin mepet jam 11.00. Ditengah kebimbanganku, ada seorang pak guru melihatku. Melihat banyak barang dan tas besar yang kubawa, yang ada kartonnya juga, mungkin terlihat jelas kali yak kalo aku mau microteaching. Pak guru itu bertanya “Mbak, jenengan yang mau micro ya?” aku kaget, kujawab aja “iya”. Pak guru itu bilang lagi, “Masuk aja, sepedanya taruh situ.” Katanya sambil nunjuk tempat dekat bawah tangga. Kuikuti aja instruksinya pak guru yang belum kukenal itu. Kulanjutkan ke kantor kepala sekolah dan aku pun digiring (kayak nara pidana wae to...) maksudnya diantarkan ke kelas 3B sama ibu guru cantik. Ditangga si bu guru cantik pun mengajak kenalan, “namanya siapa?” kujawab “fathur” lantas dia membalas “saya dina, wali kelasnya 3b, sebenarnya saya udah dikasih tau bu yani ma bu nisa kog” sambil senyum dan terus mengiringiku ke kelas. Aku balas dengan senyum dan mengucap “Oo.....apa iya?” bu Dina menjawab “iya”. Kita pun sampai di kelas 3b.
Sesampainya di 3B, aku menyiapkan bahan2ku..... kusedikit PD karena RPP-ku kubuat yang versi terbaru,. Setelah selesai menyiapkan alat, membagikan RPP pada bu Dina, bu Rani dan pak Din, akhirnya Micro pun dimulai........
Theng theng theng theng..........
****************************************
SENSOR AJA YACH,,,, MALU BUANGET AKU....
Kalo keinget itu rasanya aku gak punya muka hahhahhahha. Tapi dari micro ini ada anak yang langsung kuinget terus namanya... karna dia banyak tanya dan sering manggil-manggil aku, Haris, yang belakangan pindah sekolah..
****************************************
Selesai micro yanik dan nisa menjemputku di 3b, Yanik dan Nisa datang,,,, wa.....heboh langsung. Kita pun turun ke depan kantor kak Nisa. Aku menunggu bu Rani. Kita ber3 ngobrol. Lewatlah Pak guru yang tadi nyuruh aku masuk,
aku tanya yanik ma nisa siapa dia,,, sontak kompak mereka menjawab “Oh... itu lho yang namanya pak Dosis”.
Kubalas, “Ooohhh itu, la yang namanya Sapi’i endi?” (bagi 2sejoli yang disebut namanya gak usah GR dulu,, hihihihihihi).
“Ngko nek liwat tak kandani”, jawabnya si ****.
Ya maklum deh namanya juga temen dari jaman doloe,,, apa2 dicritain,, termasuk tingkahnya dua sejoli. Heheheheheh.... (bagi yang lain, jangan negatif thinking dulu ya,,, ini cerita dua sejoli yang suka jual dawet di manahan, aku pernah mau diajak beli soalnya buat buka bareng-bareng, tapi gak jadi, hehehe, by the way and the bus way aku pengen tau rasanya dawetnya tuh,,,enak gak ya? gek dibuat cerita bersambung lagi,, wkwkwkwkwkw)
Setelah siang aku pulang dengan rasa campur-campur terutama malu keinget micro-ku yang menurutku amburadul.
Setelah sekian lama akhirnya hari Sabtu tanggal 30 Oktober 2010 aku dipanggil ke LPP, aku dipersilahkan duduk di kantor dan saat itu ada beberapa ustadz yang juga masuk, katanya sih ngambil gaji, wah jadi gak enak dewe soalnya aku perempuan sendiri. Dan aku bener2 kagak inget ustadz-ustadz itu siapa aja karna aku juga gak liat wajah mereka waktu itu.
Aku pun diajak bu R**i pindah ruangan dan aku ditanya macem2 terutama tentang pns dan akhirnya setelah ada kesepakatan, aku dinyatakan BERGABUNG dengan Al-Irsyad. Setelah itu datanglah Pak Din yang kemudian memberiku wejangan singkat tentang Al-Ir dan memberiku beberapa kertas yang berisi tata tertib serta administrasi2 yang dibutuhkan. Beberapa saat kemudian ku disuruh ke SD Al-Ir dan dipersilahkan duduk di kantor kepsek. Deg-deg-an dan rada2 asing juga rasanya, berharap yanik ma nisa cepet2 muncul. Tapi mereka pada ngajar.
Karna aku belum dapet jadwal (guru yang kugantikan masih menyelesaikan administrasi) akhirnya aku selama seminggu pertama disuruh menggantikan guru yang katanya mau pergi ke purwokerto. Tak berapa lama kemudian datanglah seorang guru muda, yang ternyata bernama Pak Aswin, memberiku setumpuk buku bahasa Indonesia dan jadwal mengajar. Masya Alloh ngomongnya haluuuuusssssssssssss banget. Aku aja kalah dan aku cuma bisa  jawab iya2 sama nganggukin kepala doang (batinku waktu itu semoga pak Aswin gak tau kalo sebenarnya aku bingung waktu diajak ngomong itu. Hehehehe)
Jam berikutnya aku dikenalkan pada kak Anisa dan diantar beliau ke kantor guru putri, berkenalan dengan guru2 putri dan diambilkan kursi dan duduk di mejanya yanik. Disana ku berbincang2 dengan bu Afni yang bertanya macem2 juga ke aku. Dan tak kusangka ternyata beliau sepupunya temen SMA-ku yang lumayan deket sama aku. Wow dunia cukup sempit ternyata.... meskipun aku belum kenal semua dan baru beberapa aja, tapi aku cukup suka!
Setelah bertemu Yanik dan Nisa, mereka bilang “selamat datang di al-Irsyad, nikmatin SENSASI-nya ya, kau pasti suka,,,,,!!!!!” kuinget terus nih kata-kata terutama pada kata SENSASI yang menurutku sarat makna dan penuh dengan kejutan. Akan seperti apa hari2ku di Al-ir? tunggu kisah selanjutnya yaaa....! bukan maksud sok ngeksis nih, aku cuma ingin berbagi kebahagiaanku "yang bisa menjadi bagian dari Al-Ir tercinta" hehehehe :-)
Akhirnya hari itu aku pulang membawa sejuta harapan bahwa hari-hariku di Al-Ir akan indah dan berwarna warni seperti pelangi..., pelangi yang selalu menawan hati..
Dan di alam imajinasiku sana ada tulisan besar yang mengarah padaku....WELCOME TO AL-IRSYAD...... yang kusambut dengan senyuman penuh harapan  ^_^

To Be Continued........
(jangan pelit2 komen yah.......buatnya lama nie,,,,,hehehehe)

~Fafa Fathurrohma, 27052011~

Aku, Hujan dan Kenangan (Al-Ir Diaries_part 1)

aku selalu bahagia saat hujan turun karna aku dapat mengenangmu untukku sendiri (utopia)

Hujan membangkitkan kenangan-kenangan indahku tentang Al-Ir dan isinya..

Hari ini (21April2011), sepulang dari SMK2 SKA pukul 16.10, dari langit kulihat rintik gerimis menghiasi temaram senja. Gerimis membuat permukaan jalan membentuk motif-motif tak beraturan. Setelah kupastikan isi tasku selamat, kulangkahkan tekadku menerjang gerimis dengan atasan mantel. Kulajukan si  Mumu pelan sambil kunikmati syahdunya gerimis nan indah di penglihatanku. Tiba-tiba kuteringat,,, aku pernah menemui hujan yang indah di senja nya Al-Ir. Terbayang saat sore-sore menanti hujan reda di emperan kelas 2A. Aku, Yanik dan mom Reni menyaksikan segerombolan anak-anak yang bermain-main dengan hujan. Hanif, Arista, Achlam, Ibtisam, Fahmi dll. Hmmmm.. Ingin rasanya berbaur hujan-hujanan bersama mereka. Tapi tak mungkinlah,,, jaim katanya Mom Reni. Guru gitu loh. Hehehehe......
Jeprat jepret dengan kamera pun berlangsung tanpa komando. Aku inget bener, aku berharap hujan sore itu tak segera berhenti, aku ingin berlama-lama karna belum tentu ku akan dapati suasana indah itu. Saat itu aku menyadari keberadaanku di Al-Ir takkan lama lagi (di penghujung akhir bulan Februari_saat yanik akan pergi ke Sleman).

Tanpa terasa aku sampai di bangjo disperindag. Lampu merahnya menyala, namun kubelokkan si Mumu ke kiri , (siapa to si Mumu???? iku lho motorku) kulewati hokben, tempat “the power puff girls” coba2 menu paket 10ribu.... ahahaha...inget itu pengen ketawa, 10ribu plus aqua kecil 4ribu. Langsung bolong deh tuh kantong (idenya nisa ki....haruse nisa ganti rugi, ckakakakaka).
Sampai di bunderan Monumen Pers ku belokkan si Mumu ke kanan lurus melewati bakso alex. Wah jadi inget makan bakso bareng bu Aida dan bu Dina di sana. Kulanjutkan lewat Nonongan bermaksud ke Mac Mohan. Sayang hujan deras tururn. Mendadak kuubah rencanaku, aku harus pulang karena hujan semakin deras,,,. Inginku mampir saja di warung bakso baturono sambil menunggu hujannya biar sedikit reda, tapi kuurungkan karena baturono banjir, kubelokkan saja si Mumu ke arah utara, arah Kustati. Hmmm....jadi inget, saat jajan bakso baturono ma Nisa and Bu Naim, peristiwa itu berujung pada ketersesatanku di kampung semanggi. Gara2nya nisa nyepeda balap,,, aku ketinggalan, kehilangan jejak dan nyasar entah kemana,, padahal dompet isi uang dan Hpku dibawa bu Naim. Bu Naimnya bonceng Nisa,,, bensinku hampir habis, hujan lagi. Wah,,, bener2 deh... (awal bulan Desember menjelang pernikahan Bu Anni di Solo, Yanik lagi berjuang di Sleman).
Aku melaju ke utara melewati kustati... jadi inget juga, di suatu hari saat hujan-hujan sehabis les sore,,, aku, Nisa, bunda Lilis, Ust. Muttaqin, Pak Jay, Pak Kus dan Pak Wandi ke kustati bareng2 jenguk istrinya ustad Taufik yang lagi sakit.
Kulanjutkan perjalananku. Aku belok ke arah timur tepat di perempatan dekat rumah Kak Amani. Wa......ternyata airnya juga tinggi. Nyiprat deh.... basah sudah semua. Kubelok lagi ke arah Semanggi jalan pom Bensin,, lewat sate warung sate kambing tempat aku, Nisa, Bu Dina, Bu Naim, Bu Fuah dan Yanik pernah jajan bareng2 (Nisa lagi nih yang merekomendasikan, urusan kuliner, Nisa jagonya... qiqiqiqiqiqi. Peace ya Nis!)
Tiba-tiba aku inget, jalan depan SMA MTA pasti banjir!!!! Wah, aku langsung aja belok kiri, ke arah rumahnya pipik,, kuyakin aku bisa sampai mojo dengan menyelinap gang kecil dan gak kena banjir. Wah, aneh bin ajaib,, ternyata malah jalannya parah dan banjire kira2 udah 20 cm. Aku belok ke selatan di perempatan rumah pipik,,, terus ke selatan wahhhhhh....... si Mumu “MLEPHEK” tepat 1 perempatan selatan rumahnya Pipik aku terhenti,,,,,, (banjirnya belum terlalu tinggi). Aku pun berteduh, membetulkan sepedaku. Kulihat di sekeliling jalan, banjir semua,,, sepedaku gak bisa idup lagi. Aku pikir “Ya Alloh, hujan kali ini nggak indah untukku.” Setelah sekian lama, akhirnya ku calling Pipik. Datanglah ia berjalan kaki dengan mengenakan mantol,,, dituntunnya sepedaku, aku malah ngikuti dari belakang. (Baik banget Pipik, yang punya motor aku, tapi Pipik yang nuntun,,hehehehe Pipik pasti GR nih). Banjirnya semakin tinggi udah sebetis. Aku Shock... kog banjir semua kayak gini. Pipik malah ketawa2 liat kebingunganku. Yang heboh lagi sempet2nya Pipik nuntun si Mumu sambil ngaca trus bilang “Bu, aku cantik ya nek kehujanan” hahahahahahaha.... Pipik...Pipik... Lucu sekali kau.
“Pik, desamu ngeri banget Pik banjir gini.” dengan polosnya kutanya pada Pipik (ngaku2 polos, hehehe)
“hahaha,,,ngenyek banget ig, ini tanah kelahiranku lho”jawab Pipik.
“Lah masa kamu mau ke tokomu depan rumahmu yo banjir ngene ki.” Kutanya lagi penuh dengan rasa “NGGUMUN”.
“hehehehe biasa wae Bu, ayo jajan dulu sambil nunggu airnya surut.” Ajak Pipik setelah memarkirkan si Mumu.
“Jajan kemana? Udah sore aku mau pulang jam berapa?ngko piye maghrib-ane?”
“Bentar lagi surut Bu, tenang aja.”
Akhirnya kuikuti saja maunya Pipik. Dengan tas masih di punggung, mantel atasan masih terpakai dan helm masih menempel di kepala bak seorang astronot jadi-jadian, aku dan Pipik menuju warung Hik,, aku melihat banyak anak2 maen-maen denga air banjir, ciprat-cipratan, grujukan nggak peduli itu air apa. Kayak di pantai aja. Kelihatannya seneng banget. Aku tetep aja “nggumun”.
Di warung Hik banyak makanan... hehehehehe... laper juga jadinya. Akhirnya aku, Pipik dan Alya maem makanan dan gorengan. Kami bertiga duduk di dingklik. Lucu sekali di bawahnya kaki kita tergenang air. Hehehehe. Geli. Eh, jajanannya ada pepes Tuna juga lho. Jadi inget aku, Bu Naim, Nisa dan Yanik suka beli pepes Tuna.
Setelah selesai kita pun balik lagi ke rumah Pipik. Bener kata Pipik, air mulai surut.
“Tu kan Bu, aire surut, perutnya kenyang, bisa pulang” Pipik pun mengambil motorku dan menghidupkannya.
“Pik, Lha kok aire yang selatan sana masih tinggi Pik, ngko nek pitku mati meneh piye?”
Pipik akhirnya memboncengkanku sampai deket jembatan Mojo. Wendy membuntuti kami dari belakang. Aku pun pulang. Pipik berboncengan dengan Wendy untuk pulang. Terima kasih banyak Pipik, terima kasih banyak Wendy. “Ini kebanjiran yang indah.”
Ya Alloh, hujan kali ini tetap indah untukku....  

Hujan juga mengingatkanku pada serentetan peristiwa menjelang manasik haji.
Mulai dari aku, yanik dan nisa ke bursa Al-Qowam beli baju kembar untuk manasik haji. (Kita ngrayu2 penjualnya biar dikasih harga murah,,, dasar ibu-ibu! Pulangnya kita kehujanan tapi mampir dulu makan bakso dan mie ayam di kasmaran, hahahaha).
Juga saat aku bikin Co-Card guru untuk manasik haji, hari Sabtu, 8 Januari 2011. Aku ditemani Bu Naim dan Bu Aida. Tapi Bu Aida pulang duluan dan tinggallah aku dengan bu Naim. Aku inget banget, saat itu kantor masih di sebelah barat. Bu Naim SD chatingan dengan Bu Naim TK Al-Ir pake lepi dan modemku, sedang aku ngetik dan ngeprint cocard. Hujan deras turun di luar,,, laper euy.. Bu Naim pun calling penjual bakso depan. Kita pun makan Bakso. Makasih bu Naim udah nemenin aku saat itu!
Tak ketinggalan saat Manasik Haji. Di pagi yang cerah, Sabtu tanggal 15 Januari 2011, siap-siap berangkat. Eh, gerimis turun...... gerimis yang indah. Gerimis yang menyambut semangat anak-anak Al-Ir . Ada aku, Nisa, Yanik, Bu Nunik, Bu Im, Bu Naim, Bu Anni, Ustadz Ikmal, Ustadz Abu Dzar, Ustadz Muttaqin, Ustadz Taufik, Ustadz Syafi’i, Pak Hendra, Pak Kus,. Sayang bu Jamilah gak bisa ikut.
Hujan juga mengingatkanku pada bu Anni, saat makan bakso di warung depan Al-Ir,,, hari Kamis, 20 Januari 2011, jam 2. Hujan datang selesai kita makan bakso. (Kat biyen kog temane bakso). Hehehehe. Banyak pengalaman yang beliau ceritakan tentang masa kuliahnya. Hmmmm...sangat inspiratif. Terima kasih Bu Anni... Hujan hari itu juga menahanku di sekolah, sampai aku jadi tahu kegiatan Pramuka di Al-Ir untuk yang pertama kali. Ada Ustadz Muttaqin, Ustadz Syafi’i dan pak Hendra, ada Nisa, Dek Avil dan Dek Rida juga. Aku malah di kantor dengan Bunda Lilis. Bunda Lilis juga berbagi cerita inspiratif. Terima kasih bunda Lilis....... senangnya bersahabat dengan orang-orang yang lebih tua,,, banyak memetik “pengalaman”. Pramuka hari itu membuatku ikut di wide game bersma anak2 di hari Kamis tgl 27 Januari 2011.
Hujan yang lain, Alloh mempertemukan aku dan Nisa dengan Pak Aswin dan istrinya di depan Embarkasi sewaktu kami pulang dari Boyolali. Hehehehe misteri kaos kaki. Bunda Lilis, Nisa: tak akan kuulangi kaos kakinya.. :-D

Hujan yang lain lagi di pagi hari di Al-ir,,, mantolku kembar sama Bu Afni dan Bu Aida. Hihihi..
Banyak hujan saat di Al-Ir, tentu saja ada Pak Wandi, Pak Din, Pak Amin, Pak Yunus, Pak Nurdin, Pak Nugroho dan Kak Nisa, Bu Ida, Miss Novi, Tya, dek Reni, Bu Kus, Mbok Tri dan Pak Di
Dan HUJAN pun,,,,, akan selalu indah.............
To Be Continued........

~Fafa Fathurrohma, 21042011~